
Sate udang, saus mangga, sambal goring lidah tauco, dendeng balado, … ummm pepes ayam cabai kering…”
Dinda tampak sibuk membuka-buka tabloid Lezat. Matanya menyapu setiap lembar yang ada dengan mimik serius.
“Susah nggak ya bikinnya?” Sejenak ia berpikir.
“Nah! Kayaknya enak nih, yang ini… Rajungan kuah pedas. Mas Wawan kan suka rajungan. Mmmm…,” tangannya kembali bergerak membuka-buka halaman.
“Coba lihat dulu menu luarnya. Wow! Masakan Perancis. Salad kerang hijau saus pedas, daging sapi muda saus putih, steak tuna saus mentega jeruk… kayaknya gampang nih…”
Dinda kembali merenung. Masih jelas dalam ingatannya obrolan hangat siang tadi bersama sahabat-sahabatnya saat jajian reuni makan siang. Betapa seru obrolan mereka. Maklum, mereka semua sama-sama pengantin baru. Ia sendiri baru menikah dua bulan yang lalu.
“Biar kata udah jadi manajer nuh, aku nggak mau dong nelantarin keluarga…” Rina tampak berseri-seri wajahnya. Dia baru saja mendapat promosi jabatan perusahaan tempatnya bekerja.
“Jadi bener nih tiap hari kamu masak sendiri. Rin?” Ira merespon.
“Iya dong! Mas Dony kan suka makan masakanku.”
“Kalau aku nggak tiap hari sih. Tapi aku sering juga masakin. Kalau hari sabtu sama minggu sih wajib. Soalnya libur,” Ela ikut bersuara.
“Kalau kamu Din?” Ela dan Rina serempak menoleh kea rah Dinda.
“Kalau aku… Kenapa mesti repot, sih? Kan sudah ada Bibi?”
“Apa?! Jadi kamu nggak pernah masak di rumah?” Ira pasang tampang histeris, sedangkan yang lain cuman mengangguk-anggukkan kepala mendukung Ira.
“Kok kalian kaget gitu sih? Bukan masalah yang serius lagi…” Dinda berkilah.
“Salah!” Ira memotong.
“Iya,” dukung Rina, “Justru memasak itu salah satu jurus terpenting wanita untuk mendapatkan hati suami.”
“Hihihihi…” Ela ngikik berat.
“Masa sih?” Mata Dinda membulat.
“Mas Dony nggak pernah mau makan masakan orang lain. Itu sudah merupakan satu indikasi bahwa dia nggak bakalan bisa menceraikan aku meskipun bertengkar sepeti apapun juga. Soalnya kan nggak ada yang bisa masak seenak masakanku.”
“Hahahaha…” tawa mereka serempak.
“Tapi memang benar lho, Din. Lewat masakan juga kita bisa mempererat hubungan. Minimal kan komunikasi jadi lancar,” lanjut Ela.
“Memang kamu nggak masak ya, Din?” Tanya Ira yang membuat teman-temannya yang lain ikut memandangnya, curiga.
“Eh, nggak lagi… aku bisa masak laah…”
“Masak air.” Sahut Ira.
“…dan Indomie,” lanjut Rina.
“Terserah deh, percaya apa enggak. Aku ngerasa aku nggak bakal ada waktu. Kan sudah ada Bibi. Dia dibayar untuk masak. Lagipula…” Dinda menahan kalimatnya.
“Lagipula apa?” buru Rina.
“Mmmm…” Dinda tampak ragu meneruskan kalimatnya.
“Apa sih?” Ira berteriak penasaran, begitu pula Ela.
“Mmm…, Mas Wawan hobi masak.”
Mereka bertiga saling berpandangan sebelum kemudian tawa mereka meledak-ledak.
“Jadi?”
“Yang memasak selama ini suami kamu, Din?”
“Cuman hari minggu saja kok. Soalnya hari sabtu jadwal kita berkunjung ke rumah mertua,” kilah Dinda.
“Aku tahu!” JeritIra tiba-tiba.
“Apa?” yang lain menoleh kea rah Ira.
“Dinda nggak mau masak karena…”
“Karena apa sih?”
“Karena takut kalah enaksama masakan suami!”
“Yeeeeeee…”Dinda tampak tidak terima.
“Hahahaha… Ngaku aja, Din!”Sorak mereka.
“Enak aja. Aku buktikan ya kalau aku pintar memasak.”
“Oke. Buktikan saja.”
“Paling-paling kamu udah kedahuluan Mas Wawan tiap minggu. Dia udah selesai masak sementara kamu baru bangun tidur. Iya kan?”
Wajah Dinda memerah. Kok Ira bisa tahu ya kalau Mas Wawan suka bangun awal tiap minggu? Pikirnya heran.
“Minggu depan kamu bikin kejutan aja. Gentian kamu yang masak. Ntar Mas Wawanmu itu pasti surprise banget. Siapa tahu habis itu dian-diam bia belikan hadiah buat kamukan romantic?” Rina tersenyum manis kea rah Dinda.
“Gimana, Din?” tantang Ela. “Masa istri nggak pernah masak?”
“Oke. Aku buktikan deh, kalau masak itu… keciiilll…” Dinda menjetikkan jari kelingkingnya. Wajahnya penuh dengan sinar keyakinan.
***
Wuaaaaaaaa!!!
Jam 09.00.
Dida segera bangun dan beranjak dari tempat tidur.
“Waduh! Aku ketiduran sehabis subuh,” keluhnya sambil berlari ke dapur.
Sampai dapur…
“Pagi, Nda!”
Wawan tampak tersenyum lebar menyapanya. Tangannya tampak cekatan melepas celemek masaknya.
“Seperti biasa… minggu ceria! Mas sudah siapin masaka buat kamu. Enak deh pokoknya.”
Wawan tampak melangkah ke meja makan dan membuka tudung saji.
“Taraaaaaaaaa. Rajungan kuah pedas!” senyumnya bangga.
Dinda menarik napas panjang sebelum melangkah mendekati meja makan. Ditariknya sebuah kursi dan dipandanginya semua masakan di atas meja.
Benar-benar menggugah selera! Masakan Mas Wawan memang selalu lezat.
Uff, tapi bukan seperti ini yang aku harapkan, batinnya sambil menundukkan kepala lesu.
“ Kemaren sore, pas Mas mau belanja bahan, Mas buka kulkas. Eh, taunya sudah ada rajungan. Wah! Kamu memang perhatian deh. Makasih ya, udah belanjain buat Mas. Jadinya kan nggak usah repot-repot ke supermarket.” Senyum Wawan tampak tulus sekali.
Padahal kan maksut Dinda tidak seperti itu, Mas.. batin Dinda. Dinda kan pengin buat kejutan…
“Mari makaaaaannn…,” Wawan menarik kursi yang ada di depannya.
“Lho? Kamu belum ke kamar mandi, Nda? Ya ampuuuunnn…, Dinda ini belum ke kamar mandi kok sudah mau makan sih?”
Dinda cemberut. Wajahnya tampak semakin lesu.
“Lho? Kenapa? Dinda Sakit?” Wawan menatapnya cemas.
“Nggak. Dinda nggak papa. Mas Wawan sih… main tancap aja!” suggut Dinda sambil berlalu meninggalkan Wawan yang kebingungan.
Lho?
***
Pukul 09.12
“Taraaaaaaa… Mas Wawan sudah masakin soto paru. Mari makaaaaannnn…”
“Mas! Mas Wawan matiin alarm Dinda ya? Kok Dinda bisa kesiangan?”
“Lho? Dinda sendiri yang matiin kan? Kan tadi Dinda udah bangun, terus Dinda matiin lagi alarmnya.”
“Hah? Masa sih??”
“Iya. Masa lupa sih? Gimana Dinda ini.” Wawan tampak sibuk menata meja.
“Nda, kalau setiap sore Dinda udah belanjain buat Mas gini, enak ya? Tinggal masak doing.” Wawan tersenyum lebar ke arahnya.
Uuuuuuhhh, itu kan rencananya mau Dinda Masak, Mas? Batinnya kesal.
Minggu berikutnya…
Pukul 09.20
“Maaaaaaaaaaaaaasssss! Kok alarmnya nggak bunyi sih?”
“Oh iya! Kemarin kan lagi nonton TV. Eh, baterei remote-nya habis. Ya udah Mas ambil aja baterei alarmnya. Mas nggak tau kalau alarmnya udah disetel Dinda. Dinda kan kalau memang pengin bangun pagi bisa pesen ke Mas. Lho, Nda? Kok cemberut sih? Masa gara-gara baterei jadi marah gitu…” Wawan tampak tidk merasa bersalah sama sekali.
“Memang ada acara apa sih, Nda? Dinda kan nggak bilang mau ada acara. Sudah sini, sarapan dulu. Mas sudah masakin belanjaan Dinda kemarin. Cah jamur. Ngomong-ngomong Dinda pinter juga belanja. Menunya bisa variatif gini.”
Lagi-lagi Wawan menatapnya dengan kehangatan senyumnya. Duuuhhh, siapa sih yang bisa berlama-lama marah?
***
Dinda kelihatan resah di kamar. Sudah tiga minggu ini rencananya kacau. Sahabat-sahabatnya itu pasti akan mentertawakannya. Dia sudah janji, pertemuan bulan depan ini akan menceritakan pengalaman masaknya. Dia akan menceritakan bagaimana Mas Wawan begitu memuji semua masakannya. Dan waktu yang tersedia tinggal besok saja. Hari minggu terakhir.
Duuh, bisakah besok berjlan dengan mulus?
Bagaimana caranya supaya ia tidak telat bangun pagi? Bagaimana caranya agar Mas Wawan tidak terlebih dahulu bangun? Bagaimana kalau dikasih obat tidur aja? Hush!
Memakai alarm jelas terbukti tidak efektif.
Ah, Dinda ingat kata Mas Wawan.
“Kenapa sih, Nda, habis subuh selalu tidur lagi? Kan mendingan beraktifitas. Jala-jalan pagi gitu. Biar sehat, Nda.”
“Males, ah,” jawabnya seperti biasa.
Aha! Bukankah itu cara yang paling efektif? Tapi itu berat. Kantu sehabis subuh itu tak pernah tertahankan.
“Aku harus berkorban!” tekadnya.
“Ndaaaaaa….!” Teriak Wawan dari dapur.
Dinda segera siaga.
“Nda,” Wawan tampak melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
“Dinda nggak belanja ya hari ini?”
“Nggak.”
“Kalau begitu Mas ke Supermarket dulu deh.”
“Eehh,” cegah Dinda. “Nggak usah, Mas. Kita makan di luar aja ya besok. Sekali-kali deh, Mas.”
“Kenapa?” kening Wawan berkerut.
“Bosan dengan masakan Mas ya, Nda?”
“Iya.”
“Yaahhh,” Wawan tampak kecewa.
Hihihi… Dinda tertawa dalam hati. Siapa sih yang bisa bosan dengan masakanmu, Mas? Sudah pasti enak. Soalnya yang masak ganteng.
“Ya udah. Besok kita makan di luar. Sekali-kali deh.”
Dinda menarik napas lega.
***
Pukul 07.00
“Huaaaaahhhh….” Dinda menguap berkali-kali.
Ayo tahah! Masa begini saja tidak bisa? Demi suami? Batinnya member semangat.
“Bi Ijah,”
“Ya, Bu?”
“Tuna dan sayurnya masih segar kan?”
“Masih Bu. Kan kemarin termosnya dikasih es?”
Dinda tersenyum senang.
“Bawa sini, Bi. Biar saya yang masak.”
“Tumben, Bu. Biasanya kan…”
“Yang masak Bapak?” potong Dinda cepat.
Bi Ijah tersenyum malu.
“Ibu bis masak ya?” tanyanya polos.
“Wah, menghina Bi Ijah ini,” semprotnya pura-pura marah.
Bi Ijah segera mengambil bahan-bahan memasak. Ada tuna segar, sayur-sayuran, jeruk manis, tepung maizena, mentega tawar, merica,…
“Pertama-tama, lumuri potongan ikan tuna dengan garam dan merica hingga rata. Diamkan selama lim belas menit… hmmm…”
07.30
“Waaaaahhhhh! Aku kesiangan!”
Terdengar teriakan Wawan dari dalam kamar yang segera disusul dengan kemunculannya di dapur. Rambutnya masih awut-awutan.
“Lho?! Dinda?” pekiknya tertahan. Bengong.
“Surpriiiiiseeee…!” Dinda tersenyum lebar.
“Wah!” Mata Wawan berbinar.
“Tapi belum matang nih. Susah juga ya… maklum baru pertama kali.” Dinda tampak sedang memotong-motong sayur.
“Nggak papa. Mas Wawan menunggu dengan setia sampai masakannya matang. Eh sayurnya mau diapain, Nda?”
“Ditumis aja.”
“Ohhh…”
“Tolong ambilin tempat sayur itu Bi! Aduh, tunanya lupa diangkat Bi. Tolong.” Dinda tampak tak terlalu gesit di dapur.
Wawan geleng-geleng kepala. Begitu hebohnya sang istri memasak.
“Mas bantu ya?”
“Nggak usah!” Tolak Dinda cepat.
Wawan mengangkat bahu. “Ya udah.”
Tlililit… Tlililit…
Telefon rumah berbunyi. Wawan bergegas melangkah ke ruang tengah.
“Halo… ya… Oh, kamu, Ton. Hmmm… Harus hari ini? … Ntar agak siangan gimana? Nggk bisa… Ooohh… Ya udah, deh… Oke. Aku siap setengah jam lagi.”
Klik. Telefon ditutup.
Wajah Wawan tampak bimbang. Ia terlihat semakin gusar ketika kembali melangkah ke dapur. Aduuh, ini kan hari pertama Dinda mau memasak? Pikirannya tidak sampai hati.
“Mmm, Nda. Sori ya…,” ucapnya lirih. “Kayaknya Mas nggak bisa makan di rumah deh.”
Mata Dinda membulat.
“Kok?”
“Iya. Barusan Tony telefon. Katanya hari ini lembur. Gitu… Jadi…”
“Yaaahhh. Kan hari ini pertama Dinda masakin buat Mas.”
“Ya… Tapi… atau gini, gimana kalau Dinda sisain buat ntar Mas pulang?”
“Kapan?” Mulut Dinda mengerucut.
“Ntar malam.”
Dinda diam.
“Yaaaahh, jangan gitu dong, Nda. Janji deh Mas pasti cepet-cepet pulang. Kamu kan ngerti gimana kerjanya wartawan kayak Mas ini. Oke?”
“Ya deh,” Dinda mencoba tersenyum.
“Thanks.” Wawan segera melesat ke kamar mandi setelah mencium pipi Dinda sekilas.
***
“Steak ikan tuna saus mentega jeruk, oseng sayur sambal bajak, pudding, jus tomat…”
Dinda menarik napas panjang.
“Aduuuhhh, Nda. Maaf, deh ya… Maaf, kayaknya Mas nggak bisa pulang mala mini,” begitu kata Wawan di telefonlima menit yang lalu.
Mata Dinda mulai berkaca-kaca.
“Mau diangetin, Bu?” Bi Ijah menghampirinya.
Dinda segera mengusap air matanya.
“Nggak usah. Bapak nggak bisa pulang. Kasih aja semua sama tetangga belakang rumah.”
“Waaaahhh…” Bi Ijah menatapnya prihatin.
“Saya mau tidur.” Dinda melangkah begitu saja dalam kamar.
Mas Wawan bohong! Tangisnya pecah di atas bantal.
Dan limabelas menit pun berlalu…
“Dindaaaaaaa…” Suara Wawan mengagetkannya.
Reflek, Dinda mengalihkan pandangannya ke pintu kamar.
“Lho kok nangis?” Wawam menatapnya kaget.
“Lho? Kok mas sudah pulang sih?” seru Dinda tak kalah kagetnya.
“Mask an cuman mecanda. Mask an nggak serius tadi waktu bilang nggak akan pulang.”
“Apa?!” Mata Dinda membulat.
“Hehehehe… Biar kamunya panic. Soalnya kan hari pertama kamu mau masak. Eh tahunya malah nangis.”
“Kok?” Dinda menatapnya tak percaya. “Kok Mas tega sih?”
“Yah … Maaf deh.” Wawan menghampirinya dan beranjak duduk di dekatnya.
“Tapi masakannya masih ada kan?” kerlingnya. “Mas lapar nih belum makan sejak siang tadi.””Apa?! Belum makan dari tadi siang? Kok bisa sih?” Dinda mulai panic.
“Kan mau makan masakan Dinda.”
“Tapi kalau sakit gimana?” Dinda segera turun dari ranjang dan melangkah ke dapur.
“Sakit? Mas cukup kuat kok!” teriak Wawan dari dalam kamar.
“Mas mandi dulu, ya. Kamu siapin makanannya, Nda.”
Dinda tampak membuang napas keras-keras.
“Gimana sih Mas Wawan? Mana masakannya udah terlanjur dikasih ke orang lagi,” gumannya.
Aha!
Mata Dinda berbinar-binar…
“Udah mandinya, Mas?” tegur Dinda ketika melihat Wawan melangkah santai ke meja makan.
“Udah dong. Seger kan?”
Dinda tersenyum.
“Buka dong tudungnya.”
“Sabar dong…” Dinda menatapna sambil tersenyum.
“Kamu cantik deh kalau sedang tersenyum gitu, Nda.”
“Dih, ngerayu.” Tangan Dinda bergerak membuka tudung saji.
“Taraaaaaaaaaaaa…..!” teriaknya heboh.
Mata Wawan membulat.
“Kok?! Kok cuman Indomie, Nda?” tanyanya kebingungan.
“Habisnya! Siapa juga yang salah? Begitu Mas bilang ggak bisa pulang, masakannya langsung Dinda kasih ke tetangga belakang rumah.”
“Oooohh…,” Wawan mengangguk-anggukkan kepala. Di wajahnya tampak sedikit ada gurat penyesalan.
“Maaf ya, Nda.”
“Nggak papa kok. Ini juga enak kan? Yang masak Dinda lho…”
Wawan tersenyum.
“Hehehe… Iya. Kelihatannya memang enak.” Tangannya terlihat mulai menyendok kuah.
“Mas coba ya…”
“Gimana?”
“Ummm… Mmmmm… Kok rasanya lain?”
Kening Dinda mengkerut.
“Lain gimana, Mas?”
“Lain gitu… Yang ini lebih… lezaaaaaaattttt….”
“Dih, Mas ini,” rajuknya manja.
“Mas tahu kenapa rasanya jadi lezat gini…”
“Oh ya? Mas mengada-ada. Bumbunya kan udah standar.”
“Eeehhh sembarangan. Yang ini lain. Ini lebih enak.”
“Masa sih?” Dinda tetap tak percaya. Dicobanya untuk meraih sendok Waan.
“Eit! Yang ini khusus buat Mas. Kalau Dinda mau, bikin sendiri lagi.”
“Mas Wawan!” teriak Dinda gemas.”Dinda kan pengin nyobain juga rasanya. Emang rasa apa sih?”
“Hehehe… Mau tahu? Mau tahu?”
“Ihhhh…”
“Nih, Mas suapin.”
Dinda langsung membuka mulutnya.
“Gimana?” Tanya Wawan kemudian.
Mata Dinda mengerjap-ngerjap.
“Waaahhh… Enak lho, Mas!”
“Hehehe… Rasa apa?”
“Rasa Cinta!”
“Hahahaha…”
Keduanya pun tertawa riang malam itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar